28 Mei 2012 - 06:26

Kelompok teroris salafi di Suriah melakukan penyerangan dengan menggunakan senjata berat yang menewaskan setidaknya 114 warga sipil Suriah di pemukiman penduduk Houla.

Menurut Kantor Berita ABNA, kelompok teroris salafi di Suriah melakukan penyerangan dengan menggunakan senjata berat yang menewaskan setidaknya 114 warga sipil Suriah di pemukiman penduduk Houla. Diantara yang menjadi korban kebiadaban mereka 32 anak-anak dan sejumlah perempuan. Saksi mata menyebutkan, "Setelah kelompok teroris melakukan penyerangan dan pembunuhan mereka meneriakkan syair 'Kematian bagi Alawiyan' dan 'Kematian bagi Syiah' sambil mereka mengangkat kepala-kepala para korban yang telah dipisahkan dari tubuhnya."

Media pers setempat mengabarkan, "Kelompok teroris tidak hanya membunuh warga namun juga membakar perumahan penduduk di kawasan Houla yang menimbulkan banyak kerugian material. Bahkan kelompok teroris membakar satu-satunya rumah sakit di kota itu."

Sejauh ini Komandan misi PBB di Suriah Mayor Jenderal Robert Mood mengatakan pembantaian pasukan penyerang menggunakan senjata berbagai ukuran, senapan mesin hingga tank. "Satu-satunya cara untuk menyelesailkan konflik politik di Suriah adalah menghentikan penyerangan bersenjata." Ungkapnya.

Duta Besar Suriah untuk PBB Bashar Jaafari membantah tuduhan dan klaim beberapa sejumlah anggota DK PBB yang mencoba untuk mengarahkan dunia internasional kepada pengertian yang salah tentang peristiwa yang terjadi di Suriah, bahwa pelaku pembunuhan warga sipil adalah militer Suriah. "Saat ini baik [Komandan Pasukan PBB di Suriah Mayor Jenderal Robert] Mood ataupun orang lain yang terlibat dalam pertemuan informal sebelumnya mengatakan tidak akan menyalahkan Suriah dalam peristiwa ini" kata Jaafari.

Menteri Luar Negeri Perancis, Jerman, dan Sekjen PBB Kofi Anan secara terpisah menyatakan kecamannya terhadap penyerangan bersenjata yang telah menelan banyak korban jiwa tersebut dan menuntut aksi pembunuhan segera dihentikan di Suriah.

Sementara itu kelompok teroris Salafi yang mendapat dukungan dari Saudi dan Qatar menyatakan tidak bertanggungjawab atas peristiwa tersebut dan menimpakan kesalahan kepada militer Pemerintah Suriah. Padahal menurut pengakuan Pemerintah Suriah tank mereka tidak berada disekitar lokasi kejadian saat peristiwa pembunuhan itu terjadi.